Agen Bola Review Ac Milan 2012-13

AC Milan v Udinese Calcio - Serie A

Review Ac Milan 2012-13

Agen Bola – Setelah AC Milan kehilangan Zlatan Ibrahimovic, Thiago Silva, Antonio Cassano, Mark van Bomme, Alexandre Pato, Alessandro Nesta, Filipo Inzaghi, Gennaro Gattuso, dan Gianluca Zambrotta, banyak yang bilang bahwa musim 2012/13 akan menjadi musim yang sulit bagi Rossoneri. Melihat ke belakang, mungkin “sulit” memang kata yang sesuai.

Beberapa pemain pengganti didatangkan Milan. Sebenarnya mereka bukanlah pemain yang buruk, namun karena lubang yang harus mereka isi terlalu besar, mereka terlihat kecil dan kalah bagus. Beberapa klub top di Serie A akan senang memiliki Nigel De Jong, Bojan, Kevin Constant, Cristian Zapata, M’Baye Niang, Giampolo Pazzini, dan Riccardo Montolivo dalam skuad mereka. Bakaye Traore, Francesco Acerbi, dan Cristian Zaccardo mungkin berbeda.

Milan awalnya memang memulai musim dengan kesulitan. Setelah kalah lima dari delapan pertandingan game pertama, Milan mendekat dengan zona degradasi. Media-media mulai membicarakan mungkin tidaknya Milan bertahan, namun mereka ternyata berhasil. Stephan El Shaarawy menjadi pahlawan, mencetak 14 gol di putaran pertama, sekitar 42% dari gol Milan. Setelah penampilan hebat saat melawan Chievo (5-1) awal November, Milan mulai mendaki klasemen. Tim Massimiliano Allegri kalah dari Fiorentina dan Roma dalam epriode ini, namun mereka berhasil mendapatkan poin krusial dengan kemenangan kecil di laga-laga lain. Setelah pergantian tahun, sekitar 62% kemenangan mereka diraih dengan selisih satu gol.

Tibanya Mario Balotelli bulan Januari mengurangi beban El Shaarawy, bahkan sampai hilang. Balotelli menjadi tokoh utama, menjadi jantung serangan dan menyelesaikan penalti tanpa kesulitan. Dia menjadi magnet pelanggaran lawan di Milan, menghabiskan lebih banyak waktu di lapangan lawan daripada lapangan tengah. Liga Champions mereka sendiri berakhir dengan bencana, seperti biasa. Setelah hampir gagal lolos dari fase grup, Milan kalah dan menang melawan Barcelona di babak knockout pertama. Klub itu berjalan tanpa malu, merasa bangga dengan pencapaian mereka, yang, kalau boleh jujur, mengerikan. Milan harus berjuang hingga giornata terakhir untuk memastikan tiket Liga Champions dengan mengalahkan Siena di kandang lawan. Bila ingat bagaimana musim itu dimulai, peringkat ketiga sudah merupakan sukses.

Pemain Terbaik Musim Ini

Ada yang berpendapat Stephan El Shaarawy, Giampaolo Pazzini, Philippe Mexes, atau malah Christian Abbiati. Tapi mungkin jawabannya adalah Riccardo Montolivo. Eks kapten Fiorentina itu masuk ke Milanello berpikir timnya akan berisi pemain legendaris, namun ternyata harus bersama pemain rata-rata, dibayar mahal, dan kehilangan kepercayaan diri.

Dia masuk tanpa kesulitan dalam trio lini tengah dan menghubungkan lini belakang dengan lini tengah. Dia adalah mesin dan kreator banyak serangan Milan, memberikan mobilitas dan kecepatan pada permainan Milan, yang tidak bisa direfleksikan angka. Dia berhasil mencetak empat gol dan dua assist. Namun saat dia bermain buruk, Milan tampak tidak bisa apa-apa saat menguasai bola. Mereka bahkan hanya menang tiga kali saat dia tidak bermain, termasuk dua kemenangan melawan Torino dan Pescara. Dia benar-benar tak tergantikan.

Gol Musim Ini

Melihat keunikan dan kepercayaan dirinya, gol Philippe Mexes saat melawan Anderlecht di Liga Champions lah jawabannya. Mungkin kurang signifikan bila dibanding gol El Shaarawy saat melawan Udinese dan Boateng saat melawan Catania di liga, namun karena gol itu dicetak seorang defender, gol itu amatlah spesial.

Rekrutan Terbaik dan Terburuk Musim Ini

Tentu saja pemain baru terbaik adalah Riccardo Montolivo. Dia memberi Milan kreativitas, kerja keras dan pengaruh di lapangan. Mengubah lini tengah dari sekedar fungsional menjadi mobile dan konduktif. Performanya membuatnya dibandingkan dengan Andrea Pirlo, beberapa malah bilang Montolivo mungkin lebih hebat. Penilaian ini tidak bisa disalahkan dengan pengaruh Montolivo yang begitu besar. Yang membuat perekrutannya lebih hebat lagi, dia tiba di Milan dengan aturan Bosman. Hanya beberapa pembelian pemain yang bisa dibandingkan Bakaye Traore untuk kesia-siaan dan tanpa tujuan. Dia seharusnya menjadi Patrick Vieira berikut bagi Milan. Namun, pemain Milan ini hanya menjadi starter sekali dan dimainkan secara acak oleh Allegri tanpa tujuan yang jelas. Perekrutan Traore oleh Allegri musim ini terbukti menjadi lawakan bagi klub, pemain, dan pelatih. Mungkin musim depan dia bisa menemukan tempatnya, atau lebih baik minta dipinjamkan. Agen Bola