Piala Konfederasi Sebagai Panggung Atraksi Fullback

Piala-Konfederasi-2013-di-Brasil-475x545

Piala Konfederasi Sebagai Panggung Atraksi Fullback

Kumpulan Berita Bola – Kita berada di titik akhir perjalanan Piala Konfederasi. Meski turnamen ini tak menghadirkan kejutan berarti, ada beberapa fakta menarik bila kita cermati dalam permainan tim-tm yang berlaga di Piala Konfederasi.

Salah satu yang menarik dalam Piala Konfederasi kali ini adalah peran fullback dalam menyerang. Sejauh ini kita hanya melihat sedikit penampilan gelandang yang luar biasa, penampilan heroic dari seorang kiper saat menyelamatkan timnya dan gol yang luar biasa dari striker. Di sela-sela penampilan dari posisi lain, muncul juga penampilan yang menonjol dari fullback saat menyerang.

Fullback yang kentara dalam serangan adalah tim Brazil, yang menggunakan serangan sayap sebagai andalan. Pelatih Brazil Luiz Felipe Scolari telah melakukan restrukturisasi dan telah menaruh dua gelandang bertahan untuk melindungi masing-masing sayap, Paulinho hanya maju dalam serangan sporadic, sementara Luis Gustavo sering menambal posisi di lini belakang karena Dani Alves dan Marcelo selalu naik membantu serangan.

Dari lima gol yang dicetak Brazil, tiga dicetak melalui umpan silang dari fullback. Penampilan Marcelo dalam kemenangan 3-0 melawan Jepang di pembuka turnamen istimewa, dan dia memberi peringatan pada pemain Atletico Filippe Luis supaya bekerja keras mendapatkan posisi inti.

Kemenangaan 2-0 melawan Meksiko menunjukkan bagaimana besarnya ketergantungan Brazil pada penampilan fullback yang mereka miliki, Marcelo memiliki 70 sentuhan sedangkan Alves memiliki 66 sentuhan, yang terbanyak dalam tim.

Tentu saja naiknya Marcelo dan Alves dapat membuat masalah di lini belakang, terlihat dengan jelas dalam pertandingan melawan Jepang. Umpan langsung dari daerah yang ditinggalkan fullback Brazil jarang diantisipasi dengan baik oleh pemain Brazil, Jepang memiliki peluang untuk melakukan serangan balik. Strategi Brazil memang masih belum sempurna, tapi peran fullback sangat menjamin terciptanya peluang di depan.

Dalam beberapa kesempatannya, Jepang juga menunjukkan link up play yang baik dari fullback mereka. Kekalahan yang berbau kesialan saat kalah 4-3 dari Italia, tak menyurutkan kekaguman akan penampilan Atsuto Uchida dan Yuto Nagatomo, dua pemain yang berperan besar dalam kemenangan Jepang di Piala Asia.

Spanyol juga menampilkan permainan yang ganas dari fullback mereka saat pemain-pemain Uruguay tak dapat menghentikan Jordi Alba. Bek kiri Barcelona telah menjadi pemain kunci selama 18 bulan terakhir. Permainannya menawarkan eksploitasi sisi lapangan, kecepatan, dan permainan yang direct, melengkapi sisi Spanyol yang tampil terlalu sabar. Bahkan penampilana Alba memaksa Oscar Tabarez mengintruksikan Luis Suarez mengawal Jodi Alba, tapi Spanyol berekasi dengan cepat, Sergio Busquet bermain lebih kedalam, Sergio Ramos menghadapi Suarez dan Alba bermain sendirian di semua sisi kiri lapangan.

Uruguay juga menghadapi masalah yang sama saat menghadapi Nigeria. Kecepatan yang luar biasa daari Ahmed Musa memaksa Maxi Pereira untuk mundur, dengan itu maka ruang bagi Elderson Echiejile terbuka. Serangan Nigeria akhirnya selalu bermula dari sisi pemain Braga tersebut, Tabarez sampai harus dua kali mengganti formasi.

Peran fullback di era sepkbola modern kini menjadi penting, tak kalah dengan peran deep lying playmaker dan striker. Secara historis, tim yang menjuarai Piala Dunia adalah tim yang memiliki fullback yang dominan. Jorginho dan Branco yang membawa Brazil juara tahun 1994, diikuti penampilan Lizarazu dan Lilian Thuran di Prancis 1998, permainan mematikan dari Roberto Carlos dan Cafu di Piala Dunia 2002, serta sayatan sayap yang konstan dari Fabio Grosso dan Zambrotta di Piala Dunia 2006. Kemenangan Spanyol di Piala Dunia 2010 juga tak lepas dari penampilan memukau Juan Capdevilla dan Sergio Ramos di sisi lapangan.